PERBANDINGAN KONTRIBUSI LATIHAN PLAIOMETRIK DAN LATIHAN PLAIOMETRIK BERPEMBERAT ROMPI TERHADAP KEMAMPUAN DAYA LEDAK DAN HIPERTROFI ANGGOTA GERAK BAWAH


COMPARISON OF CONTRIBUTION BETWEEN PLYOMETRIC EXERCISE AND VEST WEIGHTED PLYOMETRIC EXERCISE TO THE ENHANCEMENT OF EXPLOSION POWER CAPABILITY AND HYPERTROPHY OF THE LOWER MOVING ORGAN.
(PERBANDINGAN KONTRIBUSI LATIHAN PLAIOMETRIK DAN LATIHAN PLAIOMETRIK BERPEMBERAT ROMPI TERHADAP KEMAMPUAN DAYA LEDAK DAN HIPERTROFI ANGGOTA GERAK BAWAH).

by :
PURBODJATI.*)

ABSTRACT
In this experiment, We study the influence of plyometric exercise and the influence at 5 kg-vest-weighted plyometric exercise (= both apply a method of " double legs box bounds") on explosion power capability and hypertrophy of the bower moving organ muscles among 60 students at SMP negeri I Plaosan - Sarangan - Magetan, males of 13 - 17 years old divided into two groups, each group consists of 30 students by using research design " The Randomised Pretest- Posttest Group Design".
For dosage balance of both exercises, the plyometric exercise then uses 10 boxes and 5 kg-vest-weighted uses 9 boxes, determined through the calculation at power need of the two exercise form according to mechanics principle.
The exercise is given for 8 weeks, 3 exercises within each week. Before the exercise is given, body weight and vertical jump capability (The variable which determine explosion power), Right-Left thigh perimeter, right-left calf perimeter, thickness of right-left thigh fat perimeter, and thickness of right-left calf fat perimeter (determinant variable of lower moving organ hypertroply), among all testee (pretest). During the first 4 week, the tes tees finish exercise set (week 1 - 2 = 3 set and week 3 - 4 = 4 set). The first group is given plyometric exercise using 10 boxes, whereas the second group is given 5 kg-vest-weighted plyometric using 9 boxes. In the end at the first four week, determinant variables at explosion power and hypertropy at the lower moving organ on all testees (posttest 1). Then it is followed with the second 4 week exercise, where the two group still do the same exercise method, but completes exercise set : week 5 - 6 = 5 set and week 7 - 8 = 6 set.
In the end at the second four week measurement at the determinant variables of explosion power and hypertrophy in lower moving organ is again don't among all of the testees (posttest 2). Later the acquired data are processed statistically by using discriptive statistics, anava test with significance at 5 %, with computer leep.
The result shows that plyometric exercise and 5 kg-vest-weighted plyometric which both apply movement method of double legs box bounds may surely increase explosion power capability and hypertrophy of the lower moving organ (p < style=""> have no significant difference in terms of their influences (p > 0,05).
*) Program Study Science Sportmanship - The Majors Education of Health and Recreation - The Faculty Science Sportmanship – The University Country of Surabaya; The Student Semester 6, The Program of S3 Program Study Science Sportmanship Of University Country of Surabaya.
I. Pendahuluan.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengadakan seleksi terhadap bentuk-bentuk latihanketrampilan gerak olahraga yang rasional dan terukur sehingga dapat dipilih variabel yang memiliki daya prediksicukup tinggi untuk memprediksi keberhasilan latihan ketrampilan gerak pada cabang-cabang olahraga tertentu khususnya yang memerlukan modalitas fisik pada power anggauta gerak bawah.
Keberhasilan latihan pengembangan power anggauta gerak bawah dapat dicapai secara maksimal apabila komponen­komponen berikut dikuasai dengan sempurna, yakni : 1) penguasaan garis edar pusat gravitasi tubuh, 2) momentum penggunaan tekanan udara untuk penyangga begat tubuh, 3) penggunaan daya dorong untuk memperoleh kekuatan dan kecepatan yang maksimal, 4) momentum perpindahan dari bagian-bagian tubuh secara berurutan, 5) pengembangan momentum angular daya penggerak eksentrik, 6) penguasaan kelembaman (inersia), dan 7) keefektifan penggunaan energi yang elastis pada fase kontraktil. (Wilmore,J.H; D.L. Costill, 1988)
Secara garis besar komponen diatas terdiri dari, kekuatan ledak pada waktu menolak keatas (take-off) dan kemampuan memindahkan momentum bagian tubuh yang lain. Untuk itu maka berbagai latihan yang dekat dengan kebutuhan gerak diatas telah banyak dilakukan dilapangan, seperti latihan plaiometrik, loncat tali, half squat, squat jump, standing long jump, dan berbagai latihan yang relevan.
Mengingat berbagai latihan di atas dianggap penting dan sangat dekat dengan suatu pola pengembangan power pada anggauta gerak bawah maka peneliti berkeinginan untuk membuktikan secara empiris sejauh manakah hubungan dan pengaruh antara latihan plaiometrik dengan latihan plaiometrik berpemberat rompi terhadap peningkatan power anggauta gerak bawah. Dengan harapan dapat diperoleh informasi empiris yang obyektif, rasional, dan terukur pada bentuk-bentuk latihan di atas sehingga dapat ditetapkan sebagai jenis latihan yang efektif, efisien, dan produktif dalam pengembangan power anggauta gerak bawah atlit.
Latihan plaiometrik adalah salah satu metode yang tepat untuk melatih power anggauta gerak bawah. Sebagaimana yang telah diteliti oleh Herman, 1976, Parcells, 1976, dan Scoles, 1978, bahwa pengaruh latihan plaiometrik dalam meningkatkan penampilan vertical jump dipelajari secara eksperimen dengan hasil yang signifikan. Studi tentang perbandingan pengaruh latihan plaiometrik dan isokinetik terhadap penampilan vertical jump pada mahasiswa laki-laki perguruan tinggi. Hasilnya mendukung hipotesis bahwa latihan depth-jump dan isokinetik meningkatkan penampilan vertical jump, tetapi tidak signifikan menunjukkan perbedaan antara kedua kelompok latihan tersebut.( Blattner, Stuart E; dan Larry Noble,1979)
Berdasarkan pada fakta teoritik-empirik tersebut penulis berkeinginan untuk mengkaji tentang perbandingan kontribusi latihan plaiometrik dan latihan plaiometrik berbeban rompi terhadap peningkatan daya ledak anggauta gerak bawah sehingga dapat menganalisis masalah-masalah :
1. Apakah latihan plaiometrik berbeban rompi mempunyai kontribusi yang lebih besar dari latihan plaiometrik dalam meningkatkan kemampuan daya ledak anggauta gerak bawah ?
2. Apakah latihan plaiometrik berbeban rompi mempunyai pengaruh yang lebih besar dari latihan plaiometrik dalam meningkatkan hipertrofi otot tungkai ?
II. Tinjauan Pustaka.
Power atau daya ledak adalah hasil dari dua kemampuan yaitu kekuatan dan kecepatan. Dianjurkan untuk kemampuan membentuk kekuatan maksimum dalam waktu yang sangat pendek. (Astrand, P.D., Rodahl, K; 1986, Bompa, Tudor 0; 1986, Fox, E.L.; R.W. Bowers, dan M.L. Foss, 1988, O’Shea, J.P; 1976) De Lorme pada tahun 1950 menyatakan bahwa, melalui latihan menahan beban yang ditambah secara bertahap dihasilkan suatu peningkatan pada lingkar dan kekuatan lengan dan paha. Untuk membangun power dan hipertrofi otot digunakan suatu sistim latihan menahan beban berat dengan repetisi rendah. Digambarkan power sebagaimana ditunjukkan kemampuan kekuatan suatu otot digunakan pada waktu yang sangat pendek, seperti dalam angkat berat. (O’Shea, J.P; 1964) Radcliffe menyatakan bahwa plaiometrik adalah suatu metode pengembangan daya ledak. (Radcliffe, J.C., B.S., dan R.C. Farentinos, 1985) dan merupakan bentuk baru latihan isotonik yang populer pada akhir 1970-an dan awal 1980-an. (Wilt, F; 1985)
Secara anatomis otot-otot yang terlibat dalam gerakan yang memerlukan power untuk anggauta gerak bawah adalah (Blattner, Stuart E., dan Larry Noble, 1979, Jensen, C.R., Gordon W., dan B.L. Bengester, 1983) :
1.

Gambar 1 : Kiri, otot-otot superfisial kaki kanan bagian atas bidang anterior. Kanan, otot-otot superfisial dari kaki kanan bagian atas, bidang posterior. Diambil dari Thompson, C.W.,Ph.D. (1980).
Otot-otot tungkai atas: gluteus maximus, biceps femoris, semitendinosus, semi membranosus, gluteus medius, gluteus minimus, adductor magnus, adductor brevis, adductor longus, gracillis, pectineus, sartorius, rectus femoris, vastus medialis, vastus lateralis.
2. Otot-otot tungkai bawah: gastrocnemius, soleus,peroneus anterior, plantaris, tibialis, flexor digitorium longus, ekstensor digitorium longus, flexor calcaneal. (periksa gambar 1).
Daya ledak otot tungkai adalah kemampuan seseorang untuk mengatasi tahanan dengan kecepatan kontraksi yang tinggi. (Harre, D; 1982) Yaitu kemampuan melakukan gerakan meloncat keatas yang eksplosif untuk mencapai ketinggian maksimal, yang dihasilkan oleh gerakan koordinasi power otot-otot tungkai.

Gambar 2 :
Nomogram buatan Lewis untuk menentukan power tungkai.Diambil dari Kirkendall, D.K., J.J. Gruber dan R.E. Johnson. (48).
Gerakan meloncat ke atas dipengaruhi oleh berat badan, maka jika berat badan pada waktu meloncat tidak dipertimbangan sebagai bagian dalam pengukuran, maka tes tersebut tidak dapat dikatakan sebagai tes yang benar untuk mengestimasi power tungkai. (Kirkendall, D.R; J.J. Gruber, R.E.Johnson, 1987) Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka Fox dan Mathews (1988) menggunakan sebuah nomogram buatan Lewis, yang penggunaannya memerlukan bantuan penggaris.
Dengan bantuan sebuah penggaris yang diletakkan menyilang untuk menghubungkan jalur berat badan di sebelah kanan dengan lajur tinggi raihan di sebelah kiri dapat diketahui power tungkai seseorang. Misalnya, orang dengan berat badan 37,5 kg, dan tinggi raihan 51cm; maka dapat diketahui power tungkainya sebesar = 64,5 kg-m/detik.
De Vries (1980) menyatakan bahwa otot akan tumbuh lebih besar pada ukurannya jika otot tersebut dilatih dengan program latihan berbeban berat. Pertumbuhan ini merupakan hasil pembesaran setiap fibra otot (hipertrofi) atau peningkatan jumlah sel otot (hiperplasia). Menurut Falls (1970) bahwa dengan bekerja dan berlatih yang sungguh-sungguh dapat meningkatkan kekuatan dan hipertrofi otot. Selanjutnya Brooks (1984) menegaskan bahwa akibat pengaruh latihan beban hanya akan meningkatkan ukuran otot (hipertrofi), sedangkan hiperplasia hanya akan terjadi sampai periode bayi baru lahir.
Latihan Plaiometrik adalah latihan meloncat melambung keatas bangku dengan dua kaki (double legs box bounds), tinggi bangku 45 cm.
Menggunakan tenaga eksplosif, dan mendarat di atas bangku daiam Posisi tegak agak jongkok kebelakang, kedua kaki selebar bahu, dan tangan di samping, kemudian dalam waktu yang sangat cepat meledakkan ke atas setinggi mungkin untuk selanjutnya memperkirakan pendaratan diatas landasan berjarak 80 cm di depannya dengan sikap mendarat yang sama tetapi kedua kaki agak rapat, dan dalam waktu yang sangat cepat meledakkan ke atas berusaha mendarat pada bangku berikutnya.

Gambar 3 :
Teknik gerakan latihan loncatan melambung keatas bangku dengan dua kaki (double legs box bounds). Diambil dari Radcliffe,J.C.,B.S.,R.C. Farentinos,Ph.D. (1985).
Gerakan meledak ke atas dilakukan dengan eksplosif menggunakan kekuatan dan kecepatan penuh melalui kontraksi maksimal otot-otot ekstensor dari knee, dilakukan secara berulang-ulang dengan pantulan yang sangat kuat dan cepat,sesuai dengan dosis program berikut:1) Lama latihan = 8 minggu. 2) Frekuensi latihan = 3 kali per-minggu. 3) Jumlah set = 3-6 set. 4) Repetisi = 10 repetisi. 5) Interval istirahat = 2 menit untuk setiap set.
dan 6) Beban = berat badannya sendiri. (Sage, G.H; 1984, Wilt, F; 1989)
Latihan Plaiometrik Berpemberat Rompi dalam penelitian ini adalah seperti pada bentuk dan prosedur latihan yang telah dijelaskan didepan; dengan programlatihan:1) Interval istirahat = 2 menit untuk setiap set. 2) Beban berat badannya sendiri, beban ditambah dengan berat rompi sebesar 5 kg. Rompi dipakai di tubuh dengan cara diikat sedemikian rupa, sehingga tidak mengganggu gerakan. Terbuat dari kain famatek bahan seragam hansip. Kantong beban ada empat, terdiri dua di depan dada dan dua di punggung, masing-masing untuk kapasitas pasir seberat 1,25 kg.
Gagasan latihan plaiometrik adalah untuk merangsang berbagai perubahan dalam sistem syaraf otot, meningkatkan kemampuan kelompok otot untuk dapat merespon dengan cepat dan kuat perubahan sedikit dan cepat pada panjang otot. Suatu keistimewaan terpenting latihan plaiometrik adalah penyesuaian sistem syaraf otot untuk memberikan suatu perubahan yang cepat dan lebih kuat secara terarah. (Radcliffe; J.C., B.S., dan R.C. Farentinos, 1985)
Rasional proses fisiologis dan persyarafannya yang rumit adalah sebagai berikut : Gerakan plaiometrik berdasarkan atas reflek kontraksi serabut otot yang dihasilkan dari pembebanan yang cepat (dan menjadi peregangan) pada serabut otot yang sama. Indera penerima (sensory receptor) utama yang bertanggung jawab cepat merasakan pemanjangan serabut otot adalah Muscle Spindle, yang mampu merespon besar dan cepatnya perubahan panjang serabut otot. Tipe lain pemanjangan reseptor adalah tendon golgi yang berlokasi dalam tendon dan merespon ketegangan yang berlebihan seperti hasil kontraksi yang kuat (peregangan/pemanjangan otot). Muscle Spindle adalah sangat penting dalam plaiometrik .(Best and Taylor’s; 1985)
Informasi didepan dapat menjadi modalitas untuk merumuskan hipotesis: 1) Bahwa latihan plaiometrik berbeban rompi mempunyai kontribusi yang lebih besar dibanding latihan plaiometrik dalam meningkatkan kemampuan daya ledak anggauta gerak bawah. dan 2) Bahwa latihan plaiometrik berbeban rompi mempunyai pengaruh yang lebih besar dibanding latihan plaiometrik dalam meningkatkan hipertrofi otot tungkai.
III. Pelaksanaan eksperimen dan hasilnya.
1. Pelaksanaan Eksperimen.
Eksperimen dicobakan pada 60 siswa SMP Negeri I Plaosan-Sarangan-Magetan, pria berumur 15-17 tahun yang terbagi menjadi dua kelompok, setiap kelompok terdiri dari 30 siswa dengan menggunakan rancangan penelitian "The Randomized Pretest-Posttest Group Design".
Untuk keseimbangan dosis kedua latihan, maka latihan plaiometrik menggunakan 10 bangku dan latihan plaiometrik berpemberat rompi 5 kg, menggunakan 9 bangku, ditentukan melalui perhitungan kebutuhan power kedua bentuk latihan berdasarkan prinsip mekanika.
Latihan diberikan selama 8 minggu, setiap minggu 3 kali latihan (Senin, Rabu dan Sabtu). Sebelum diberi latihan dilakukan pengukuran terhadap berat badan dan kemampuan vertikal jump (variabel penentu daya ledak), lingkar paha kanan-kiri, lingkar betis kanan-kiri, ketebalan lemak paha kanan-kiri, dan ketebalan lemak betis kanan-kiri (variabel penentu hipertrofi anggauta gerak bawah), pada seluruh orang coba (pretest). Pada 4 minggu pertama, orang coba menyelesaikan set latihan (minggu 1-2 = 3 set dan minggu 3-4 = 4 set), kelompok pertama diberi latihan plaiometrik menggunakan 10 bangku, sedangkan kelompok kedua diberi latihan plaiometrik berpemberat rompi 5 kg. menggunakan 9 bangku. Pada akhir 4 minggu pertama, dilakukan pengukuran terhadap variabel-variabel penentu daya ledak dan hipertrofi anggauta gerak bawah pada seluruh orang coba (posttest 1). Kemudian dilanjutkan dengan latihan 4 minggu kedua, dimana kedua kedua kelompok masih tetap melakukan metode latihan yang sama, tetapi menyelesaikan set latihan : minggu 5-6 = 5 set dan 7-8 = 6 set.
Pada akhir 4 minggu kedua dilakukan pengukuran kembali terhadap variabel-variabel penentu daya ledak dan hipertrofi anggauta gerak bawah pada seluruh orang coba (postest 2). Selanjutnya data yang didapat diolah secara statistik dengan menggunakan statistik diskriptif, uji anava dengan taraf signifikansi 5 % dengan bantuan komputer.
2. Hasil.
Dengan memperhatikan grafik 1 maka pengaruh latihan plaiometrik terhadap daya ledak otot tungkai, adalah sebagai berikut:
1). Latihan plaiometrik yang menerapkan metode gerakan loncatan melambung keatas bangku dengan dua kaki(double legs box bounds) dapat meningkatkan daya ledak anggauta gerak bawah pada kelompok eksperimen 1 dengan sangat bermakna (p<0>
Latihan plaiometrik berpemberat rompi 5kg yang menerapkan metodegerakan loncatan melambung keatas bangku dengan dua kaki (double legs boxbounds) dapat meningkatkan kemampuan daya ledak anggauta gerak bawah pada kelompok eksperimen 2 dengan sangat bermakna p<0>

Grafik 1:
Perubahan power tungkai selama latihan plaiometrik dan latihan plaiometrik berpemberat rompi 5 kg. (Sumber: dokumen penelitian).
3). Pada latihan plaiometrik dan latihan plaiometrik berpemberat rompi 5 kg. yang keduanya menerapkan metode gerakan loncatan melambung keatas bangku dengan dua kaki (double legs box bounds), menunjukkan tidak mempunyai perbedaan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan daya ledak anggauta gerak bawah (p>0,05).
Sedangkan pada grafik 2 dan 3 memberikan informasi tentang pengaruh latihan plaiometrik terhadap hipertrofi otot tungkai, sebagai berikut:
4). Latihan plaiometrik yang menerapkan metode gerakan loncatan melambung keatas




bangku (double legs box bounds) dapat meningkatkan hipertrofi anggauta gerak bawah (pahakanan-kiri dan betis kanan-kiri) pada kelompok eksperimen 1 dengan sangat bermakna (p<0> Latihan plaiometrik berpemberat rompi 5 kg. yang menerapkan metode gerakan loncatan melambung keatas bangku dengan dua kaki (double legs box bounds) dapat meningkatkan hipertrofi anggauta gerak bawah (paha kanan - kiri dan betis kanan-kiri) pada kelompok eksperimen 2 dengan sangat bermana (p<0> Pada latihan plaiometrik danlatihan plaiometrik berpemberat rompi 5 kg. yang keduanya menerapkan metode gerakan keatas dengan dua kaki (double legs boxbounds), menunjukkan tidak mempunyai perbedaan pengaruh terhadap peningkatan anggauta gerak bawah (paha kanan-kiri dan betis kanan-kiri) (p>0,05).
IV. Penutup.
1. Kesimpulan.
1) Bahwa latihan plaiometrik dan latihan plaiometrik berpemberat rompi 5 kg. yang keduanya menerapkan metode gerakan loncatan melambung keatas bangku dengan dua kaki (double legs box bounds) dapat meningkatkan kemampuan daya ledak dan hipertrofi anggauta gerak bawah secara menyakinkan (p<0>0,05).
2) Dalam eksperimen ini penetapan dosis latihan plaiometrik dan latihan plaiometrik berpemberat rompi 5 kg. telah memenuhi kebutuhan ambang rangsang fisiologis untuk membentuk dan meningkatkan daya ledak dan hipertrofi otot tungkai bawah pada murid SMPN 1 Plaosan Magetan Jawa Timur (usia 15-17 th.) dengan sangat signifikan.
2. Saran.
Dari hasil penelitian ini, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
1) Pembentukan dan peningkatan kemampuan daya ledak dan hipertrofi otot dapat menggunakan latihan plaiometrik dan latihan plaiometrik berpemberat rompi yang menerapkan model gerakan keatas bangku dengan dua kaki (double legs box bounds).
2) Pemakaian berbagai bentuk beban, dalam latihan plaiometrik perlu ditentukan ketepatan dosisnya, dan diarahkan pada pemberian efek fisik yang berdayaguna serta mencegah kemungkinan timbulnya cedera fisik. dan
3) Diharapkan adanya penelitian lain yang berhubungan dengan pengaruh latihan plaiometrik dalam membentuk dan meningkatkan kemampuan daya ledak dan hipertrofi otot.
K e p u s t a k a a n.
Astrand, P.O; Rodahl, K; 1986,Texbook of Work Physiology:Physiological Bases of Exercise. 3rd.ed., New York: McGraw-Hill Book Company, hal. 14-16, 19-36.
Best and Taylor's,1985, Physiological Basis of Medical Practice. William and Walkins, 428 East Preston Street, Baltimore, MD. 21202, USA., hal. 6-20.
Blattner, Stuart E; dan Larry Noble, 1979, Relative Effects of Isokinetic and Plyometric Training on Vertical Jumping Performance. The Research Quarterley, Vol. 50, Nu. 4, Submitted: 22 February, Accepted: 18 June, hal. 583-588.
Bompa,Tudor O; 1986, Theory and Methodology of Training: The Key of Atletic Performance. Kendall/ Hunt Publishing Company, Printed in The United States of American, hal. 213- 247.
Brooks,G.A; Fahey, T.D; 1984, Exercise Physiology. John Wiley & Sons, New York, hal. 378-385, 401.
Falls,Harold B; 1970, Foundation of Conditioning. Academic Press Inc; New York, hal. 61-77.
Fox, E.L;R.W. Bowers, dan M.L. Foss, 1988, The Physiological Basis of Physical Education and Athletics.4rd. Ed., Philadelphia Sounders Collage Publishing,hal.13-37,39,57,82,99,140,155-162,175,286,360-370.
Harre, D; 1982, Principle of Sport Training.1st.Ed; Lepzig, Interdruck Graphisher Grobhetrieb, hal. 10-12.
Kirkendall, D.R; J.J. Gruber, R.E.Johnson, 1987, Measurement and Evaluation for Physical Education. 2nd. Ed; Illionis, Human Kinetics Publishers, Inc; Champaign, hal. 147-149, 179-180, 118-119.
O’Shea, J.P; 1976, Scientific Principle and Methods of Strength Fitness. 2nd. Ed;Tokyo: Addison, Wiesley Publishing Company, hal. 1-80.
O’Shea, J.P; 1964, Effects of Selected Weight Training Program on The Development of Strength and Muscle Hypertrophy.The Research Quarterley, Vol. 37, Nu.1, May 24, hal 95-102.
Radcliffe, J.C; .S; dan R.C. Farentinos, 1985, Plyometrics : Explossive Power Training. 2nd. Ed., Human Kinetics Publishers, Inc., Champaign, Illionis, hal. 1-4, 7-26, 34-121.
Sage, G.H; 1984, Motor Learning and Control A Neuropsychological Approach. Wm. C. Brown Dubuque, IOWA, Printed in The U.S.A; hal. 5-7.
Wilmore,J.H; D.L. Costill, 1988,Training for Sport and Activity The Physiologycal Basis of The Conditioning Process. 3rd.Ed; IOWA. : Wm.-C. Brown Publishers Dubuque, hal. 6-7, 113-135.
Wilt, F; 1989; Plyometrics: What is - Who it Works. Athletic Journal, Vol. 55 (76), hal. 89-90.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Penelitian Untuk Studi Olahraga

MERCUSUAR DUNIA 1